review tempat wisata


Buku yang kubaca untuk tantangan kedua Program RCO ini, judulnya 'Berdoa Di Atas Awan' tulisan Haikal Siregar. Isinya full tentang pendakian yang sudah pernah dijalani sang penulis. Mulai gunung Gede Pangrango, Salak, Semeru hingga Rinjani. Dalam menuliskan pengalaman perjalanannya, ia tak lupa memberikan informasi tambahan yang perlu untuk diketahui oleh pembacanya, bila suatu saat nanti akan mendaki gunung tersebut. Karena tiap gunung mempunyai keistimewaan dan ciri-ciri yang umumnya berbeda satu dengan yang lainnya. Entah itu jalur pendakian atau keadaan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. 


Dari sekitar delapan gunung yang perjalanannya diceritakan dengan mengesankan, ternyata ada satu gunung yang gagal digapai puncaknya, yaitu Gunung Arjuna, di kabupaten Malang. Kebetulan, dulu ketika masih kuliah aku pernah mendaki gunung Arjuna dan berhasil sampai di puncak. Sehingga untuk menggenapi pengalaman Haikal Siregar, akan kutuliskan sedikit cerita perjalanan mendaki Arjuno via kebun Teh. 


Singkat saja sih.. karena hanya sedikit bagian yang kuingat dalam perjalanan ini. 

Kami berenam anggota Himapala dengan komposisi empat cowok dan dua cewek termasuk aku, sepakat memulai pendakian malam. Agar bisa sampai di puncak pagi hari dan siangnya turun dengan harapan sore sudah bisa pulang ke Surabaya. Jadi menginapnya di hutan. Gratis beratapkan langit dan bintang gemintang. Keren kan..  Hanya bersandar di pohon sambil bersedekap menghalau hawa dingin musim kemarau. Waktu itu.. kok ya kuat ya? Padahal hanya pakai T-shirt plus selembar jaket bahan Drill. Mungkin karena misi yang diemban sebagai anggota baru, yang disyaratkan harus mendaki Arjuno jika ingin mendapatkan scarf merah sebagai tanda bagian dari komunitas mapala. Berangkatlah saiya bersama dua senior sebagai pemandu dan penjaga. Sisanya yang empat orang adalah junior yg baru punya pengalaman  mendaki gunung Welirang (tetangga Arjuno) dan gunung Penanggungan. 

Alhamdulillah perjalanan lancar karena senior kami sudah puluhan kali melalui jalur pendakian via kebun teh ini untuk membimbing juniornya agar sampai ke puncak. Jadi tempat 'rest area' yang biasa dipakai beristirahat juga sudah dikenali lokasinya walaupun malam gelap gulita seperti saat itu.

Kami berangkat menyusuri kebun teh di kaki gunung sekitar pukul delapan atau sembilan malam setelah mengisi bahan bakar di warung terakhir yang terdekat dengan kebun Teh. Menyusuri malam yang benderang dengan sinar bintang yang menerangi jalan setapak membuat kami memulai pendakian dengan keceriaan. 

Malam semakin larut dan tanjakan demi tanjakan kita lewati tanpa terasa karena sambil berjalan kami asyik mengobrol. Maklum, sesama pendaki baru yang masih minim pengalaman kami merasa sangat 'excited' dengan perjalanan ini. Gunung Arjuno.. w o w.. 

Singkat cerita, setelah sejenak memejamkan mata sambil meluruskan kaki di rest area, kami melanjutkan pendakian hingga subuh menjelang. Setelah sholat dan melanjutkan langkah kaki, kami sampai di puncak sekitar pukul delapan pagi. Kami membuka bekal dengan lahap lalu beristirahat sejenak. Setelah itu kami mengadakan upacara kecil pemakaian red scarf sebagai tanda bahwa kami telah 'naik kelas' menjadi setengah senior.

Di Puncak Arjuno kami berlindung di bawah batu² besar untuk tidur sekedar untuk menghimpun tenaga. Lalu kira² pukul sepuluh kami beranjak menuruni area Puncak untuk kembali ke kaki gunung dengan semangat yang berbeda. Dengan scarf merah kebanggan, kami menuruni jalan setapak dengan cepat tanpa rintangan apapun. Pohon Pinus di sepanjang jalur pulang (sama dengan jalur naik kemarin) seolah mengucap selamat tinggal. Desau angin hanya lirih menggoyang helaian daun Pinus, sementara kami menuruni gunung dengan kecepatan penuh. Tak ada yang menarik di jalur pendakian via kebun teh ini. Tidak juga pemandangan indah. Biasa saja. Pemandangan di gunung ya itu-itu saja, tak terlalu menarik untuk dibicarakan.

Syukur Alhamdulillah atas petolonganNya kami tiba di pasar Lawang dengan selamat tak kurang suatu apapun.


Tips sukses mendaki : 

1. Latihan fisik sebelum hari- H

2. Bawa perlengkapan dan bekal yang memadai

3. Bawa kawan karib untuk menjagamu

4. Jangan melanggar adat istiadat

setempat walau tampaknya aneh dan sepele.

5. Berdoa memohon perlindungan kepada dzat yang memiliki Alam semesta 

Semoga sukses.



#RCO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku Ibu Pilihan Tuhan

tugas1 review novel